Putussibau > Equatopedia > Fisiografi
FISIOGRAFI KABUPATEN KAPUAS HULU
Kabupaten Kapuas Hulu dilalui oleh garis khatulistiwa dengan letak geografisnya pada 0,5o LU - 1,4o LS dan 111,4o - 114,1o BT.

Batas-batas wilayah kabupaten ini adalah sebagai berikut:
- sebelah utara berbatasan dengan Serawak, Malaysia Timur
- sebelah timur berbatasan dengan Propinsi Kalimantan Timur
- sebelah selatan berbatasan dengan Propinsi Kalimantan Tengah
- sebelah barat berbatasan dengan Kabupaten Sintang

Kabupaten Kapuas Hulu memanjang dari arah barat ke timur dengan jarak terpanjang 240 km dan melebar dari utara ke selatan dengan jarak 126,7 km. Luas keseluruhannya adalah 29842 km2.

Morfologi. Secara keseluruhan kabupaten Kapuas Hulu merupakan daerah yang telah mengalami pengikisan dan sudah semakin tua yang ditandai dengan gradien sungai yang kecil dan berbelok-belok. Morfologi daerah Kapuas Hulu umumnya berbentuk wajan yang terdiri dari cekungan yang terendam air memanjang dari hilir Nanga Manday terus ke arah barat mengikuti aliran sungai Kapuas sampai Nanga Suhaid.

Kecamatan Semitau terdiri dari danau-danau dan rawa-rawa yang airnya cukup dalam. Sedangkan dataran rendah yang bukan danau terendam dua kali setahun selama ½ sampai 6 bulan. Dataran rendah ini berada pada ketinggian kurang lebih 31-46 meter di atas permukaan laut.

Pada dataran tinggi diselingi oleh rawa-rawa memanjang tetapi sempit, diselingi oleh bukit-bukit kecil. Dataran ini termasuk kategori yang biasanya digenangi air pada waktu-waktu tertentu, yakni ketika terjadi curah hujan yang tinggi yang menyebabkan banjir dan tergenang air selama 2-5 jam saja. Dataran ini terletak pada ketinggian sekitar 4761 meter dari permukaan laut.

Iklim. Kabupaten Kapuas Hulu beriklim tropis dengan suhu udara berkisar anatara 22,9o C sampai 31,05o C dengan suhu rata-rata siang harinya adalah 29o C. Curah hujan cukup besar menyebabkan proses pencucian tanah berlangsung dengan cepat dan sering terjadi banjir musiman. Bila air sungai menjadi surut pada musim kemarau, maka terjadi pendangkalan alur-alur sungai dan akibatnya transportasi menjadi terhambat, terutama untuk daerah pedalaman yang sungai-sungainya menjadi urat nadi perhubungan dari dan ke ibukota kabupaten.