Perahu Lancang Kuning mulai dikenal ketika masyarakat
kerajaan Pontianak mempersiapkan penyambutan kedatangan
Sultan Pontianak VI, Sultan Syarif Muhammad Alqadrie,
dari kunjungan muhibahnya ke negeri Belanda. Oleh
pemangku pemerintahan saat itu diadakanlah musyawarah
dengan mengundang kerabat, pemuka masyarakat dan
kepala-kepala kampung di wilayah kota Pontianak dan
sekitarnya.
Dalam musyawarah itu muncul ide dari
seorang pangeran untuk membuat kenangan khusus berupa
perahu yang dinamakan Lancang Kuning. Lancang adalah
semacam perahu kakap, dan disebut Kuning karena dicat
berwarna kuning, khas Melayu. Tidak ada perahu lain yang
berwarna kuning, selain Lancang Kuning.
Perahu ini mengingatkan kembali akan
sejarah pendirian kota Pontianak, dimana Sultan Syarif
Abdurrahman menggunakan perahu kakapnya menyusuri sungai
Kapuas.
Konon perahu Lancang Kuning pernah
ditumpangi Van Moek pada masa pemerintahan Sultan Hamid
II, yakni pada sebuah pesta taman di Istana Kadariyah
pada malam hari. Perahu ini terakhir kali digunakan saat
menyambut Wakil Presiden RI pertama, dr M Hatta.
Gagasan untuk menjadikan Lancang
Kuning sebagai maskot kota Pontianak datang dari Drs
Syarief Muhammad Amin Alkadrie, seorang kerabat
kesultanan Pontianak. Secara filosofi, perahu Lancang
Kuning yang digerakkan oleh 14 orang pendayung, memiliki
makna perlunya gotong-royong dalam mencapai tujuan. Yang
menentukan adalah kemudi, sebagai gambaran kepemimpinan.
|